2nd Wedding Anniversary

Alhamdulillah, tanggal 24 Oktober 2016 kemarin pernikahan kami berumur 2 tahun. yeeaayy..

Apa sudah puas selama 2 tahun ini? Apa sudah merasa sempurnah? Apa bahagia?

Yang jelas saya bersyukur dengan pernikahan saya. bukan berarti kami selalu baik-baik saja. Pernikahan kami mungkin masih jauh dari kata sempurna, tapi Insha Allah, kami (khususnya Saya) merasa pernikahan kami menyenangkan, walaupun nggak jarang juga saya dan suami berantem perihal sepele (lebih tepatnya saya deh yang keseringan ngomel 😛 ) tapi menikah dengan Mamas membuat hidup saya tenang, mudah, berwarna, menyenangkan, sementara Mamas selalu berusaha membuat impian saya terwujud. Alhamdulillah..

Alhamdulillahnya lagi, perayaan kecil 2 tahun pernikahan kami kemarin , kami rayakan di Malaysia sambil mengajak Ibu mertua-Ibu kandung; yang termasuk salah satu resolusi 2016 kami. Tapi Ayah dan adik adik saya juga ikut sih. Berangkat tanggal 23 oktober pulang 25 oktober 2015.

Jadi, saya akan sedikit cerita kemana aja kemarin selama di Malaysia. Saya menginap di hotel pacific express (yang katanya hotel bintang 4, tapi ternyata pelayanan mirip hotel bintang 2) kesel banget. Pelayanan yang lelet, ada keluhan nggak ditaggepin. Jadi gini, di hotel itu saya memesan 3 kamar. Nah semuanya dapat kamar di smooking area, tapi kok ya apes, kamar saya bau rokoknya parah dibanding kamar yang lain. Nah saya komplain, tapi tanggepannya buruk banget. Yang dijanjikan pindah kamar malem itu, eh ternyata enggak, tau tau janjiin bakal ada room keeping yang bersihin, eeeh ditunggu lama, juga ga nongol. Setelah itu kita komplain lagi, jawaban resepsionisnya “coba tanya sendiri sama room keeping. tuh ada room keeping di sana” kesel nggak sih? belum cukup di situ, jadi kami selama di Malaysia sewa mobil tanpa sopir. Nah otomatis kami harus setir sendiri kan, nah di parkiran hotelnya (parkirannya sempit banget cuma sedia untuk 4 atau 5 mobil tamu; di depan hotel ada tulisan valet tapi ga ada yang jaga) waktu kita bener bener kesusahan parkir, karena lahannya sempit dan penuh, ada satpam hotel yang cuma diem doang lihatin kami susah parkir, bahkan Ayah saya harus turun buat jadi kang parkir dadakan, satpam hotel lihat, tapi bengong doang. KESEL parah sumpah. jadi seriuslah, sekali aja tidur di sana. Beruntungnya kita cuma menginap semalam saja. Besoknya kita ke central market, sama ke batu cave yang sayangnya patungnya lagi di renovasi, huhu. Terus kita langsung ke genting highland nginap di first world hotel.

Selamat dua tahun Suamiku Sayang, semoga pernikahan kita selalu dalam lindungan Allah, dirahmati Allah, diberkahi Allah, dan dijadikanNya keluarga kita keluarga yang sakinah mawadah warrahmah ya, Sayangku. Semoga kita selalu dijadikan hamba-hambaNya yang selalu bersyukur. Terima kasih sudah rela bersusah payah membuat Saya bahagia. I love You Mas :’)

Memang Sudah Tugasnya

“Kenapa banyak orang pacaran uda lama, menikah sebentar lalu akhirnya pisah?”

Pertanyaan ringan nan menggelitik muncul dari teman saya hari ini.

Ya ya .. dulu sebelum saya menikah, Saya juga termasuk ke dalam golongan orang orang yang terlalu percaya bahwa:

1. Orang yang menjalin sebuah hubungan adalah orang-orang yang setia dan saling menjaga

2. Orang yang menikah tidak akan mempedulikan “sifat asli” dari pasangannya.  Karna ya… sudah laku ini.

Yap.. naif.

Pada kenyataannya, setelah menikah, akan banyaaaaaak sekali yang harus dipertahankan, dijaga, dilestarikan (halah), dipertanggung jawabkan.

Tanggung jawab. Bicara mengenai ini.. akan banyak “rasa terima kasih” yang perlahan pudar ketika orang semakin menuntut tanggung jawab dari orang lain.

Semisal, kita bertanya/ komplain pada salah satu CS (Customer Service), mungkin sesudahnya, kita akan lupa mengucapkan terima kasih, atau bahkan menyepelekannya, dengan dalih.. “ah emang tugasnya kan” atau lagi-lagi kita lupa berterima kasih pada guru yang membuat kita pintar dengan dalih “ah emang tugasnya” atau parahnya, kita lupa berterima kasih kepada orang tua kita karna sudah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dengan dalih “ah emang tugasnya”

Nah.. begitu pula yang banyak terjadi di dalam Rumah Tangga.

Banyak mungkin yang tak sadar, kita menyepelekan pekerjaan suami kita. Lupa untuk berterima kasih atas tanggung jawab yang sudah dikerjakan suami kita. Pun sebaliknya, seorang suami yang lupa berterima kasih pada istrinya karena menjaga rumah tetap bersih, menyiapkan makan malamnya, dll.

Dulu waktu masa pendekatan hingga pacaran, kita terbuai merasa bahagia, hanya perkara dibikinkan secangkir teh panas. Namun ketika sudah menikah, lalu istri membuatkan teh panas setiap pagi, suami menganggap sepele, tak ada rasa terima kasih, tak terenyuh.. karena beranggapan “memang sudah tugasnya” jadi ketika istri tidak membuatkan teh panas, suami merasa kecewa karena istri tidak mengerjakan tugasnya. Lagi-lagi, suami menuntut.

Sama halnya dengan seorang gadis, bahagia ketika pacarnya membelikan ia baju. Lalu mereka menikah; menjadi suami-istri. Sang suami membelikannya baju, istri beranggapan, “ah memang tugasnya.” Tak lagi berbunga seperti mereka pacaran. Jadi ketika suami tidak bisa membeli baju, istri marah. Lalu menuntut.

Singkatnya, setelah menikah.. semakin banyak tuntutan yang dianggap  ” memang sudah tugasnya” jadilah perlahan hilang rasa hormat, rasa terima kasih. Hilang pula rasa syukur.

Cerita Tentang Hati

Aku masih ingat awal jatuh cinta (oh so cheesy, yang jelas aku berjingkat kegirangan ketika menerima pesan singkat dari dia, atau setelah menutup telepon dari dia) dan dengan orang yang sama jugalah, pertama kalinya ku patah hati. Waktu masih duduk di bangku kuliah, sekitar semester 1 atau 2. Tapi ketika itu hanya dengan teman-teman dekat aku mengeluh. Lalu aku mengalami patah hati lagi yang kedua, yang pernah kuceritakan di blog ini beberapa tahun lalu. Patah hati yang kedua, setelah lulus kuliah, ketika usiaku menginjak 20an, tidak lagi air mata yang menetes atau bahkan teman dekat yang tau. Tidak, mereka tidak ada yang tau, ini patah hati yang aku timbun sendiri. Yang aku ceritakan pada mereka ketika lukaku sudah mulai membaik.

Lalu, tidak seperti sekarang yang aku lihat dan sedang heboh di sosial media, ketika sepasang muda mudi yang akhirnya mengakhiri kisah cinta mereka-yang mereka klaim waktu cinta-cintanya– yang akhirnya mereka tunjukkan tidak hanya pada teman terdekatnya; melainkan juga pada dunia betapa sakitnya dia.

Oke, itu pilihan mereka. Mau pada siapa mereka mengeluh tentang patah hatinya.

Tentang cinta,

Setelah patah hati kedua, aku menjadi orang yang menyerah pada cinta. Sedangkan Mas yang mengaku tidak pernah serius untuk menjalin hubungan.

Aku dan Mas sepakat bahwa cinta itu sebenarnya bisa dibentuk. Cinta itu perihal “biasa bersama”. Aku dan Mas, menikah berdasar bukan karena  saling cinta yang banyak digemborkan orang-orang; “menikahlah dengan orang yang kau cintai”. Tapi, kami menikah seperti berdasar “sudah jalannya begini” atau mungkin “keterpaksaan”. Terpaksa, terlanjur sampai pada tahap ini. Ah, bukan, ini bukan perjodohan. Kami hanya percaya dengan takdir.

Kami hanya saling mengenal satu sama lain, tidak ada jingkat kegirangan saat menerima pesan singkat, tidak ada rona wajah memerah ketika bertemu, tapi tau-tau kami sampai pada tahap, “loh kita mau nikah” .. terlanjur.

Aku yang iseng menantang, Mas yang mungkin dengan gengsinya merasa tertantang.

Tapi, setelah menikah, kami tau bahwa kami memang saling membutuhkan. Kami tidak pernah menyesali pernikahan kami.

Dan ya, selanjutnya kami saling mencintai.

 

Sunyi

Sunyi yang masih tetap sama
Ia yang juga tetap sama

Aku membisu

Ia pun terdiam

Memandang entah apa

Bayangan yang telah lalu

Atau langit yang kelabu

Mungkin juga bukan itu

Tapi lihat,

Lorong itu tak lagi gelap, seperti saat itu

Ketika terakhir kali, Ia meminta pergi

Menikah Itu Tidak Mudah

“Iiih romantisnyaa… jadi pingin cepet cepet nikaah”
“Aah.. kalo dibikinin makanan kayak gini terus, aku jadi pingin cepetan nyusul nikah”
“Duuuh, kapan nih yank, kita punya anak lucu gini?”
Daan perkara keinginan cepet nikah yang lainnya..

Menikah itu bukan perkara yang mudah, bukan “akhirnya tidur ada yang nemenin”, bukan juga “akhirnya ada yang nyiapin ini itu”.
Menikah bukan tentang foto perjalanan honeymoon romantis yang mengundang iri sebagian orang yang melihat.
Menikah itu bukan akhir dari perjalanan; melainkan awal dari perjalanan. Menikah itu bukan pencapaian tertinggi, tapi justru merupakan awal untuk mencapai sesuatu.
Dengan menikah, maka perlahan akan menghilangkan debar jantung yang cepat ketika bertemu dan kupu-kupu di perut yang biasa muncul saat berada di dekat dia perlahan akan hilang.
Menikah juga bukan tentang “Setelah menikah aku akan mendapatkan” tapi malah sebaliknya; “Setelah menikah aku akan memberikan”. Lalu, dengan menikah, berusaha mendapatkan akan berubah menjadi berusaha mempertahankan. Dan dengan menikah, hanya akan ada segunung tanggung jawab yang harus dihadapi.
Tapi menikah juga tidak akan sesulit yang dibayangkan jika kita memilih pasangan yang tepat. Dia akan menjadi tempat pulang yang paling hangat. Dia akan menjadi tempat bersandar yang paling nyaman. Dia juga akan menjadi tempat berlindung yang paling aman.
Tapi, dengan mengambil keputusan “aku harus segera menikah karena si A (tampaknya) begini begitu setelah menikah”; ku anggap bukan keputusan yang paling bijak.

-ditulis setelah membaca komentar beberapa orang yang ingin segera menikah setelah melihat post foto romantis pasutri baru-

Mumpung Bayi Tidur, Suami Belom Pulang

“seorang Ibu bisa bernafas lega banget salah satunya adalah ketika akhirnya bayinya tidur” ternyata sahih adanya 😛

*inhale-exhale*

Akhirnya bisa gegoleran santai, jam setengah tujuh malem ini Abiraga akhirnya tidur juga setelah seharian susah tidur (tidur 5 menit bangun lagi) mudah-mudahan yang ini bisa sejam-an lah ya, Nak.. 😛

Asyiknya lagi, Bapaknya Abiraga juga belom pulang dari kantor, mayaan bisa blogging sejenak 😛

Jadi, Saya lagi excited baca-baca review tempat liburan yang asyik di Bandung buat April depan barengan Burky,Iin beserta suami-suaminya. Hihiy! I can’t waiiitt Selain itu, Saya juga baca-baca tempat honeymoon di Bali (Loh,kok honeymoon lagi?)

Hihi. Habisnya Saya ngerasa kalo honeymoon Saya sama Mas dulu bukan honeymoon. Tapi mbolang. Jadi Saya mau (sedikit maksa) ngulang yang namanya honeymoon,sesuai impian Saya. Sekalian rayain 2nd wedding anniversary bulan Oktober nanti. Masih lama banget sih. Tapi Saya mau nyiapin mateng-mateng biar nggak gagal lagi.

Jadi ceritanya Saya kesel sama Mas.Semua foto honeymoon hilang *sedih* *nangis* Mas lupa ditaroh dimana. Padahal ngakunya dulu udah di save 😥

Nah maka dari itu, Saya mau ngulang lagi HM nya 😛 *selalu ada celah* dan lagi, cita-cita saya dulu nginep di Ubud dengan resort macam orang hanimun beneran.Eh taunya cuma ke hotel 101 di kuta. Gitumah gak perlu hanimun juga bisaaa.. Jadi mau nagih Mamas.

Ceritanya dulu tuh Saya pasrahin hanimun ke Mas. Niatnya Saya pingin tau sisi romantisnya dia di mana. Secara ye,tu orang lempeng banget ke pasangannya. Nggak ada romantisnya. Ngajak pacaran ya ndak romantis.Ngelamar juga enggak. Tau deh tiba-tiba orang tuanya ke rumah. Terus pas nyiapin nikahan dia juga nggak ikut campur, jadi masa iya saya salah kalo masrahin urusan hanimun sama Mas. Berharapnya hanimun diajakin ke resort romantis, privat dinner… eh ternyata nihil. Hotel juga dapetnya di bandara. Blaaah. Terus sekarang semua fotonya ilang. KESEL KAN? IYA SAYA KESEL BANGET.

Terus dijanjiin babymoon.Eh taunya? NGGAK ADA! *nangis kenceng di pundak .. pundak siapa aja deh yang ada*

Makanya 2nd hanimun ini nggak boleh gagal. Capek jaga bayik. Mau dititipin ke Neneknya. Alhamdulillah, di acc sama Ibu 😛

 

Dah 2015, Halo 2016!

Whoah.. nggak kerasa sudah masuk 2016. Padahal berasanya baru kemaren kawinan. Eh ternyata uda lewat setahun lebih :p

Banyak banget yang saya pelajari di tahun 2015. Terutama menjadi seorang Ibu. Sempet banget rasanya mau nyerah. Sempet banget baby blues. Jadi suka uring-uringan sama suami. Ngerasa nggak pantes jadi Ibu. Pokoknya nggak betah dan nggak pingin ngapa-ngapain saking capek dan bingung musti mana dulu yang dikerjain. Dan banyaknya pengeluaran mulai melahirkan, modal pengembangan usaha, syukuran. Tapi Alhamdulillah bisa melewati semuanya.

Resolusi tahun ini nggak muluk-muluk (mudah-mudahan nggak kerasa berat) :

  1. Jadi Ibu yang serba bisa dan bisa diandalkan untuk Abiraga
  2. Jadi Istri yang selalu bisa bikin suami betah deketan
  3. Jadi Istri yang baik buat suami
  4. Bisa masak (T-T .. ini susah banget buat saya yang nggak suka banget di dapur dan pasar)
  5. Bisa beli semua list to buy di 2016
  6. Liburan ke Jakarta-Bandung buat nyamperin Iin yang kawin 27 desember kemarin (belum sempet ke sana, maapkeun soul)
  7. Rayain ulang tahun Abiraga yang pertama bareng keluaravSaya dan Mas
  8. Honeymoon part 2 ke Bali rayain 2nd wedding anniversary berdua sama Mas (sumpah ini udah kebelet banget, pingin cepet-cepet oktober)
  9. Ngembaliin mobil dari ortu lalu Beli mobil pake dana pribadi